ILMU, BEBAS NILAI ATAU TIDAK ?

  1. A.   Strategi Pengembangan Ilmu

Setiap kali bebicara tentang strategi pengembangan ilmu, maka pertanyaan pertama yang muncul dibenak kita yaitu: apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak ? sebab kedua cara pandang yang berbeda itu membawa implikasi yang berbeda pula dalam strategi pengembangan ilmu yang dipilih.

Kadang kala orang mengaitkan pilihan antara bebas atau tidak bebas nilai itu dengan jenis ilmu yang dikembangkan. Artinya, ilmu-ilmu sosial dipandang lebih banyak terkait dengan masalah-masalah sosial. Sehingga, lebih kuat keterkaitannya dengan masalah nilai. Sedangkan ilmu-ilmu eksak, nyaris terlepas dari intervensi sosial, sehingga dipandang lebih bebas nilai. Apakah pendapat yang demikian itu dapat diterima atau tidak ? tentu pembuktian dilapangan sangat menentukan bahwa ilmu-ilmu eksak sekalipun tidak kalis terhadap kepentingan sosial. Sehingga sedikit banyak terkait pula dengan nilai-nilai.

 

  1. B.   Ilmu Bebas Nilai Atau Tidak ?

Didalam filsafat ilmu terjadi banyak kesibukan dalam menghadapi pertanyaan apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak ?. pertanyaan ini senantiasa dihubungkan dengan pertanyaan apakah mengenai hal ini gambaran tentang ilmu-ilmu alam berbeda dibandingkan dengan ilmu-ilmu manusia seperti: ilmu masyarakat, ilmu sejarah ilmu jiwa, ilmu ekonomi, sesuatu tanggapan disebut pertimbangan nilai jika didalamnya orang mengatakan bahwa sesuatu hal baik atau keliru, diharapkan atau tidak diharapkan, positif atau negative, menguntungkan atau merugikan, indah atau jelek, atau apakah sesuatu hal layak untuk diutamakan dibandingkan dengan hal-hal lain[1]. Oleh karena itu perlu dirumuskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan bebas nilai itu. Joseph situmorang menyatakan bahwa bebas nilai artinya tuntutan terhadap setiap kegiatan ilmiah agar didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri.[2]

Ilmu pengetahuan menolak campur tangan factor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu pengetahuan itu sendiri. Paling tidak ada tiga factor sebagai indicator bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai:

Pertama, ilmu harus bebas nilai dari pengandaian-pengandaian. Yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti: faktor politis, ideologi, agama, budaya, dan unsur kemasyarakatan lainnya.

Kedua, perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin. Kebebasan itu menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri.

Ketiga, penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat kemajuan ilmu, karena nilai etis itu sendiri bersifat universal. Ilmu kita katakan bernilai, karena menghasilkan pengetahuan yang dapat dipercaya kebenarannya, yang objektif, yang terkaji secara kritik. Jadi sesungguhnya, pembicaraan mengenai keadaan lain yang bebas nilai yang dimungkinkan atau diharapkan, bermula dari membuat pertimbangan nilai mengenai ilmu itu sendiri. Meskipun pertimbangan ini juga masih dapat beraneka ragam coraknya.

Sejak manusia membutuhkan ilmu pengetahuan, sejak itu pula ada nilai-nilai yang ditargetkan. Fungsi dan manfaat yang diperoleh dari ilmu pengetahuan merupakam tujuan akhir dari semua pengetahuan, kinerja pengetahuan pengetahuan yang tidak pernah luput dari nilai.

Ada lima hal yang perlu diperhatikan kaitannya dengan makna nilai, yaitu:

  1. Nilai sebagai panduan hidup manusia
  2. Nilai sebagai tujuan hidup manusia
  3. Nilai sebagai pilihan normatif
  4. Nilai sebagai hakikat semua pengetahuan
  5. Nilai sebagai kesadaran tertinggi dari seluruh kesadaran manusia tentang motof-motif dan bentuk sebuah tindakan yang berakar pada nalar dan tolak ukur yang terjadi jaminan tercapainya tujuan perilaku[3].

Lima aspek dari makna nilai diatas adalah kesimpulan yang mengungkapkan makna nilai secara filosofis. Dengan demikian, alternatif pertama atau dapat pula diletakan terakhir dlam seluruh tindakan berpengetahuan atau tidak, adalah pilihan nilai dalam kehidupan rasional dan spiritual manusia sebagai individu atau kelompok. Prinsip bernilai, sepanjang makna tersebut menjadi perangsang dan pelengkap hakikat semua tujuan diraihnya ilmu pengetahuan sekaligus pengalamannya.


[1] Beerling, dkk. Pengantar filsafat ilmu, Yogyakarta: PT.Tiara Wacana Yogya, 1997. Hal.132.

[2] Rizal muntasyir, dkk. Filsafat ilmu, yogyakarta: pustaka pelajar, 2008. Hal.170.

[3] Beni amad sobani, filsafat ilmu, bandung: pustaka setia.2009.hal.192.

2 thoughts on “ILMU, BEBAS NILAI ATAU TIDAK ?

  1. F.Galih Mahardi mengatakan:

    TIDAK menurut pendapat Saya, dengan catatan ilmu akan bernilai dan tidak sia-sia jika diamalkan dengan cara berbagi dengan sesama.. salam :-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s