Maf`ul Li Ajlihi

Maf`ul Lah (Maf`ul Min Ajlih)

 

A. Pengertian Maf`ul Lah

 

Maf’ul lah dinamai juga maf’ul lai ajlih atau maf’ul min ajlih yaitu mashdar qolbi (hati) yang disebut sebagai alasan bagi peristiwa yang bersamaan waktu dan pelakunya. Contoh lafadz رغبة  pada ungkapan إغتربت رغبة فى العلم[1] , dan contoh lafadz طلباً  pada ungkapan يسافر الطالب إلى أوربّا طلباً للعلم[2]

Devinisi lain nya, Maf’ul Min ’ajlih Ialah Isim mansub yang dinyatakan sebagai penjelas bagi penyebab terjadinya fii’il (perbuatan)[3]

Lafadz رغبة  adalah mashdar qolbi, menjelaskan alasan kenapa ia mengassingkan diri. Karena sebab mengasingkan diri itulah ia rindu terhadap ilmu. Kejadian itu (mengasingkan diri) bersamaan dengan mashdar (rindu) dalam hal waktu dan pelakunya. Karena waktu keduanya itu adalah satu yaitu pada waktu lalu, dan fa’ilnya pun satu yaitu mutakallim.

Yang dimaksud mashdar qolbi itu adalah mashdar bagi perbuatan-perbutan yang muncul dari bathin, seperti :

التعظيم والإجلال والتحقير والخشية والخوف والجرأة والرغبة والرهبة والحياء والوقاحة والشفقة والعلم والجهل و نحوها[4] .

kebalikannya adalah af’al jawarih (perbuatan anggota badan) yang tampak dan yang berkaitan dengannya seperti :

القراءة والكتابة والقعود والقيام والوقوف والجلوس والمشي والنوم واليقظة، ونحوها[5]

B. Syarat-syarat Nashab Maf`ul Li Ajlihi

Maf’ul li ajlih harus memenuhi lima syarat. Jika salah dari syarat tersebut hilang maka tidak boleh nashab. Tidak setiap lafadz nashab yang disebut untuk menjelaskan sebab terjadinya suatu perbuatan adalah maf’ul li ajlih. Rincian syarat-syarat nashabnya maf’ul li ajlih adalah sebagai berikut :

  • Maf’ul li ajlih itu adalah mashdar. Jika bukan mashdar maka tidak boleh nashab, seperti firman Allah : والأرض وضعها للأنام[6]
  • Maf’ul li ajlih itu adalah mashdar qolbi, yaitu perbuatan-perbuatan nafsu bathin. Jika mashdarnya bukan qolbi maka tidak boleh nashab. Contoh : جئت للقراءة
  • Poin 3 dan 4 mashdar qolbi itu bersatu dengan fi’il dalam waktu dan fa’il. Maksudnya, waktu perbuatan dan waktu mashdarnya mesti satu, dan fa’ilnya adalah satu. Jika berbeda waktu atau perbuatannya maka tidak boleh menashabkan mashdar. Contoh سافرت للعلم  karena waktu safarnya lampau, dan waktu ilmunya akan datang. Contoh lain : أحببتكِ لتعظيمكِ العلم karena fa`il dari محبّة adalah Mutakallim, dan fa`il dari  التّعظيم adalah Mukhotob

Apabila 5 syarat di atas tidak dipenuhi maka harus dijarkan dengan huruf jar yang menunjukkan arti sebab. Seperti ل, ب,من, علي  dll.

Contoh-contoh yang tidak Masdar:

هو الذى خلق لكم فِى الأرضِ جميعا

Lafadz لكم  adalah menjadi sebab Allah menciptakan apa yang ada dibumi, tapi ia bukan mashdar. Karena itu dimasukkan kedalam nya لام التعليل


[1] Jami`u durus, hal.461

[2] An-Nahwu al-Wadih juz II

[3] Jurumiah, hal.29

[4] Jami`u durus, hal.461

[5] Ibid., hal. 462

[6] QS.Ar Rahman, Ayat 10

2 thoughts on “Maf`ul Li Ajlihi

  1. hans hazel mengatakan:

    lhamdulillah,inshaaAllah mufid..choukran lak🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s