Ibnul Muqaffa`

  1. A.    Riwayat hidup Ibnu Al-Muqoffa

Rudzabah bin Dadzubah di lahirkan di Persia tepatnya di Bashroh  pada tahun  106 H/724 M. Memiliki ayah yang bernama al-Mubarak. Al-Mubarak bertugas  sebagai pemungut pajak di daerah Irak dan Iran ketika Hajjaj Ibn Yusuf al-Saqafi menjadi Gubernur Irak dan Iran (41–95 H atau 661-714 M) pada masa kekuasaan Dinasti Bani Umayah. Al-Mubarak melakukan kesalahan dalam menjalankan tugasnya, yaitu menggelapkan sebagian hasil pungutan pajak; oleh karena itu, ia dijatuhi hukuman potong tangan (sanksi pencurian adalah potong tangan seperti terdapat dalam Al-Qur’an). Sejak saat itulah Al-Mubarak digelari Al-Muqaffa‘ (orang yang terpotong tangannya). Gelar ini kemudian dilekatkan pada nama anaknya, Rudzibah Ibn al-Muqaffa. Secara harfiah, Ibn Al-Muqaffa berarti  “anak orang yang tangannya terpotong.”

Ilmu pertama yang di terima oleh Ibnu Al-Muqaffa’ itu adalah kebudayaan dengan dua bahasa yaitu: Arab dan Persia atas para ilmuan di Bashroh. Dan ia unggul dalam ilmu keduanya, dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keduanya, Rudzabah itu membantu akhir masa khalifah bani Umayyah kemudian di lanjutkan dengan membantu khalifah Abbasiyah, dan setelah masuk Islam beliau akrab dipanggil Abu Muhammad. Kala itu, karena fitnah yang menimpanya, ia dituduh sebagai orang yang zindiq dan berusaha memusuhi islam. Akan tetapi mungkin dia meninggal karena sebab-sebab politik, Dia dijatuhi hukuman mati ketika berusia 36 tahun (106-142 H). Masih muda. Tragis memang, tetapi itulah sejarah yang ada.

 

  1. B.     Peninggalannya

Telah sampai kepada kita prosa-prosa Ibnu Al-Muqaffa’ salah-satunya al-Adab ash-Shaghir wa al-Adab al-Kabir, menjelaskan bahwa kemuliaan akhlak kadangkala datang dari pemikiran dan filsafat, selain datang dari agama. Menurut pendapatnya, orang-orang yang berakhlak, tingkah lakunya pasti sesuai dengan agama dan filsafat. Dia sangat bangga melakukan perbuatan yang mulia, pasti dirinya akan mencapai derajat yang tinggi dan terhormat. Kalaulah perbuatan mulia itu tidak dianjurkan oleh agama, manusia tetap melakukan perbuatan mulia.

Ibnu Al-Muqaffa’ di dalam adab shaghirnya menyalin kitab-kitab sebelumnya dari perbedaan bangsa-bangsa yang lain, dan di antara keduanya di temukan dalam adab kabir pengarangnya memiliki tujuan yang jelas yaitu menyelesaikan jawaban sebelumnya dari sesuatu hal yang menghilangkan pertimbangan, Ada juga yang mengatakan bahwa dia dihukum mati akibat suratnya yang dikirim kepada khalifah yang dikenal dengan nama ‘Risalah al-shahabah’. Surat itu mengkritik tatanan hukum yang berlaku saat itu, selain menunjukkan jalan keluar untuk memperbaiki tatanan yang ambruk itu. Seperti yang di salin kepada kebudayaan arab banyak pengaruhnya kepada prosa-prosa Persia, tetapi belum sampai kepada kita Kalilah wa Dimnah yang menjadi kitab-kitab tersohornya,Di samping itu, Ibn al-Muqaffa’ juga menulis kitab Mazdak, at-Taj fi Sirah Anusyirwan, Jawami’ Kalilah wa Dzimnah, al-Yatimah, dan al-Adab ash-Shaghir wa al-Adab al-Kabir. Kitab yang terakhir disebutkan, yaitu al-Adab ash-Shagir wa al-Adab al-Kabir adalah risalah yang memuat petuah-petuah moral. Petuah-petuah tersebut diambil Ibnu Al-Muqaffa’ dari kata-kata bijak orang-orang terdahulu yang sangat berguna untuk membersihkan hati dan menghidupkan pemikiran.

 

  1. C.    Derajat dalam Kesusastraannya

Ibnu Al-Muqaffa’ adalah orang kedua yang menemukan metode pertama dalam penulisan karya sastra arab, dan yang pertamanya yaitu abdul hamid bin yahya. Dan uslubnya itu mempunyai keunggulan karena di dalamnya terdapat kehususan  tertentu yang jelas di antaranya adalah majaz, dalam perkataanya dia sering menggunakan kalimat majazi:

شربت من الخطب ريا ولم أضبط لها روِيا

Selain majaz dia juga menggunakan uslub mantiq dan dia menyampaikannya dalam bentuk hikmah dan perumpamaan dengan tujuan untuk membantu dalam kebaikan.

Dan dia mempunyai keutamaan terbesar dalam menyampaikan cara penulisan bahasa arab dengan beragam kebudayaan asing yang masih ada, maka dengan demikian muncullah pemikiran kebudayaan arab yang sederhana.

Banyak para penyair dan para penulis yang mendapat pengaruh dari ibnu al-mugaffa baik itu dari pemikirannya, cara memaknainya ataupun dari metode penulisannya bahkan sampai saat ini kita masih menemukan kitab Modern yang cara penulisannya serupa.

  1. D.    Prosanya

Dalam hal kesabaran

Ketahuilah bahwasanya sabar itu ada dua:

Pertama Kesabaran seseorang atas apa yang menimpanya dari kesulitan, dan Kedua kesabaran seseorang atas apa yang menimpanya dari yang ia senangi.

Dan kesabaran yang terbesar adalah kesabaran yang menuimpanya dari kesulitan dan kebanyakan kesabaran yang seperti itu terjadi atau datang secara tiba-tiba. Dan ketahulah bahwasanya yang rendah itu adalah yang paling sabar secara fisik, dan yang mulya itu adalah mereka yang paling sabar hatinya. Kesabaran yang terpuji itu bukanlah kekuatan yang menerima pukulan dari lelaki atau yang kakinya kuat untuk berjalan atau tangannya yang kuat untuk bekerja, akan tetapi itu merupakan salah satu sifat keledai.

Dan kesabaran terpuji itu adalah apabila seseorang dapat memperoleh kemenangan dari dirinya sendiri  dan banytak mensyukuri segala perkara dan dalam keadaan  darurat dia masih bias melakukan kebaikan yang di pandang baik di mata orang-orang yang berakal, dan ketika dia emosi dia bias menahannya, dia juga unggul dalam memberikan nasehat, tidak mengikuti hawa nafsunya danketika dia mengharapkan suatu kebaikan maka dia tak kenal lelah, dan dia mempersiapkan dirinya untuk melawan hawa nafsu dan membatasi pandangannya sesuai dengan kekuatan hatinya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s