Rangkuman Ilmu Tarjamah

Terjemah adalah suatu upaya mengalihkan makna teks (wacana) dari bahasa sumber (lughah al-ashl) ke bahasa sasaran (al-lughah al-mustahdafah). Atau mengalihbahasakan dari bahasa asal  (source language, al-lughah al-mutarjam minha) ke bahasa sasaran (target language, al-lughah al-mutarjam ilaiha). Menurut sebagian pakar bahasa, terjemah juga dapat berarti suatu usaha memindahkan pesan dari teks berbahasa Arab (teks sumber) dengan padanannya ke dalam bahasa Indonesia (bahasa sasaran).

Sebenarnya banyak sekali definisi terjemah yang dikemukakan oleh para ahli, namun agar lebih mudah digunakan maka setelah mempertimbangkan prinsip akomodatif operasional, dapat didefinisikan sebagai berikut: Seni mengganti bahasa ucapan atau tulisan dari bahasa sumber ke dalam bahasa yang dituju. Terjemah dapat dikatakan seni, dikarenakan adanya hubungan yang sangat erat antara language taste (al-zauq al-lughawi) penulis dengan languange taste penerjemah. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa terjemah adalah busana pemikiran seseorang. Apabila busana itu baik dan dipakai sesuai dengan suasana dan keadaan, maka akan terlihat indah dan menarik. Yang paling mendasar dalam terjemah adalah kemampuan berpikir dan memindahkan hasil pemikiran ke dalam ungkapan yang baik.

ASAS TERJEMAH

Jika dalam insya’ (mengarang) terdapat dua pilar; ta’bir (ekspresi) penulis dan tafkir (upaya berpikir secara kreatif dan kritis), maka dalam terjemah juga terdapat dua unsure mendasar yakni memahami dan menyusun ide-ide sehingga mengerti maksud pengarang. Intinya, bukan hanya mengalihbahasakan semata, namun kemampuan dan ketrampilan mengikat makna, sehingga merupakan kemenyeluruhan dan keutuhan ide penulis.

Di sinilah, penerjemah perlu lebih jeli menangkap pemikiran  dan maksud-maksud dari penulis. Dibandingkan dengan mengarang (insya’), maka proses penerjemahan sebenarnya lebih sulit dan memerlukan usaha lebih teliti dari penulis itu sendiri. Hal itu dikarenakan penerjemah terbatas pada upaya memahami pemikiran penulis, sedangkan penulis lebih bebas mengemas, memilih dan mengekspresikan pikirannya ke dalam tulisan baik dari diksi kata maupun struktur kalimat (uslub)nya.

Berdasar pada kondisi di atas, maka penerjemahan selalu rawan terjadi kesalahan, terlebih lebih, jika penerjemah kurang memahami alur pikir penulis, dan tidak membekali diri dengan ilmu bantu yang mencukupi, serta tidak memahami disiplin ilmu yang sedang diterjemahkan.

KATEGORI TERJEMAH

Pada umumnya, dilihat dari metode yang digunakan dan hasil yang diperoleh, karya terjemahan oleh sebagian pihak dikelompokkan pada dua ketegori yang saling berlawanan, yakni terjemah harfiyah (literer) dan terjemah bi al-tasharruf (bebas). Dapat kita lihat pengertian masing-masing dalam penjelasan berikut ini:

Terjemah Harfiyah. Kategori ini meliputi terjemahan yang sangat setia dan taat asas terhadap teks sumber. Kesetiaan biasanya digambarkan dengan ketaatasasan penerjemahan terhadap aspek tata bahasa teks sumber, seperti urutan-urutan bahasa, bentuk frase, bentuk kalimat dan sebagainya.  Akibat yang sering muncul dari terjemahan model ini adalah, hasil terjemahannya menjadi kaku, rigit dan saklek karena penerjemah memaksakan aturan-aturan tata bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Padahal keduanya memiliki perbedaan yang mendasar. Hasilnya, dapat dengan mudah dikatakan, yakni bahasa Indonesia yang bergramatika bahasa Arab, sehingga sangat aneh dan kurang luwes bahasanya.

Terjemah Bi al-Tasharruf/Tafsiriyah. Kategori ini menunjuk kepada terjemahan yang kurang mempedulikan aturan tata bahasa dari bahasa sumber. Orientasi dan sasaran yang ditonjolkan adalah pemindahan makna.

Adanya perbedaan dua kategori ini hanya ada pada tataran teoritis konseptual. Pada kenyataannya, hampir tidak ditemui satu pun terjemahan yang benar-benar murni harfiyah atau tafsiriyah. Penerjemah yang kaku dan saklek sekali pun, tentu akan memperhitungkan hasil terjemahannya agar tetap bernas dan lugas dibaca oleh penutur bahasa sasaran. Demikian pula sebaliknya, penerjemah bebas juga akan mempertimbangkan terjemahannya pada kaidah dan aturan-aturan kebahasaan teks sumber.

Singkat kata, dua kategori tersebut belum cukup memadai untuk memotret dunia nyata dari hasil terjemahan. Yang ada dalam kenyataan adalah, terjemahan selalu mengambil jalan tengah, di atara dua titik ekstrim tersebut. Wajar bila kemudian muncul dua istilah lain, yakni terjemah semi harfiyah dan terjemah semi tafsiriyah (syibh al-harfiyah wa syibh al-tafsiriyah). Penerjemahan semi harfiyah, berarti ada kecenderungan literer, lebih mungkin terjadi pada terjemahan di antara dua bahasa yang memiliki kekerabatan yang sangat dekat. Sedangkan penerjemahan semi tafsiriyah, atau cenderung bebas, biasanya dianut pada penerjemahan di atara dua bahasa yang memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Masih dari aspek metode, jika dilihat dari intensitas penerjemah, maka terjemah sering dikelompokkan dalam kategori lain, yakni kategori ‘terjemah langsung’ (al-tarjamah al-fauriyah) dan ‘terjemah tidak langsung (al-tarjamah al-tahdhiriyah).

Terjemah langsung (fauriyah). Yang biasa diandalkan dari makna terjemah ini adalah terjemahan yang dilakukan secara langsung atau tanpa suatu persiapan, seperti interpreter yang menerjemahkan atau meringkas pidato, diskusi atau seminar. Jika demikian, yang lebih tepat adalah merupakan jenis terjemahan yang dihadirkan langsung begitu teks sumber selesai diucapkan atau dituliskan.

Terjemah Tidak Langsung (al-tarjamah al-tahdhiriyah). Model ini sering disebut dengan terjemah biasa atau tidak langsung. Artinya penerjemahan yang dilakukan dengan persiapan terlebih dahulu. Begitu teks sumber dihadirkan tidak langsung diterjemahkan. Terjemahan model ini biasanya yang paling banyak dilakukan untuk menerjemahkan naskah-naskah tulisan, terutama buku.

J. Vinay dan A. Darbelient menjelaskan bahwa dalam penerjemahan tentu akan melalui tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Ada enam tahapan kunci bagi terjemahan, yaitu, peniruan (iqtibas), simbolisasi (isti’arah), harfiyah, Idkhal, mu’adalah dan taqrib/ta’rib.

Iqtibas adalah menerjemahkan kata dalam kalimat suatu bahasa kepada kata aslinya seperti:

a. pesta rakyat              al-mahrajanat al-sya’biyyah

b. doktor                       al-duktur

c. strategi                      istiratijiyyah

Isti’arah, meru[akan terjemah literal tekstual untuk mengungkapkan ungkapan yang tidak ada pada bahasa asal/sumber. Biasanya, isti’arah ini berbentuk perumpamaan simbolik, seperti;  First Lady                        al-sayyidah al-ula

Harfiyah, adalah terjemahan literal tekstual, mengikuti kata demi kata dalam bahasa sumber. Penerjemah terlalu terikat dengan bahasa sumber. Ini merupakan terjemah yang kaku karena penerjemah mengesampingkan unsur elastisitas dan rasa bahasa untuk memperoleh terjemah yang baik. Contoh:

Idkhal, mengadakan ungkapan-ungkapan yang sebanding dengan bahasa sasaran dengan ungkapan dalam bahasa asal, contoh:

Musyawarah                  al-musyawarah

Mu’adalah, merupakan ungkapan tentang satu kata dengan pelbagai ungkapan yang berbeda-beda seperti ungkapan perumpamaan dan kiasan, seperti:

Patah hati, patah arang

Bagaikan tikus dan kucing

Taqrib dan Ta’rib. Merupakan pola penerjemahan yang digunakan jika tidak ada padanan lain selain bahasa asal, biasanya kata yang berasal dari bahasa non Arab yang diarabkan (al-ta’rib). Seperti:

Musik                           al-musiqa

Hamburger                    hamburghiyyah

UNSUR POKOK TERJEMAH

Dalam proses penerjemahan, seorang penerjemah perlu memperhatikan beberapa unsur pokok dalam menerjemahkan yaitu:

I. ASPEK BAHASA

  1. Penguasaan kamus bahasa, kemampuan memilah dan memilih diksi bahasa baik dari arti kosa kata maupun struktur kalimat. Yang tidak kalah pentingnya adalah memahami arti kata baik secara leksikal, tekstual dan konotatif/denotatif.
  2. Sorof. Kemampuan memahami ilmu sprof dan perubahan tasrif serta memahjami fungsi penambahan hurud baik untuk transitif (ta’diyah) menerima akibat (mutawa’ah) maupun saling berbalasan (musyarakah). Di samping iru ketrampilan penerjemah dalam dua macam tasrif (lughawi dan isthilahi). Trampil salam dua macam tasrif itu sangat strategis dalam terjemah. Hal itu bagaikan hafal perkalian dasar dalam ilmu berhitung/matematika. Sorof sangat vital dlam proses penerjemahan. Sebab jika salah akibatnya akan sangat fatal. Bandingkan: jalasa dengan ajlasa. Fataha dengan infataha, asyara dengan istasyara. Dan seterusnya.
  3. Nahwu. Aspek yang tidak mungkin ditinggalkan oleh penerjemah asalah nahwu. Dalam konteks terjemah, kemampuan nahwu di sini bukan hanya sekadar teoritis tapi kompetensi praktis empiris. Penerjemah harus memapu membedakan perbedaan I’rab secara konkrit akurat, apakah itu fa;il, maf;ul, ma;lum majhul, mudhaf, atau man’ut, bentuk kalimat ta’ajjub atau istifham dan seterusnya. Sebagaimana dinyatakan oleh Abdul Qahir alJurjani: semua kata itu tertutup oleh artinya sendiri, sehingga pemahaman I’rablah yang membukakannya. Sorof memproduksi kata-kata untuk direkayasa oleh nahwu sehingga menghasilkan makna yang indah.
  4. Balaghah. Dalam terjemah, balaghah merupakan aspek penting yang tidak bisa ditinggalkan, karena merupakan alat untuk mengenali rasa bahasa dengan sensitifitas yang tinggi, agar penerjemah mampu membedakan arti yang tersirat dari pada hanya arti lahiriyahnya. Mampu membedakan antara pemaknakan alegoris, silogis maupun, majazi. Karena tidak selalu yang tertulis merupakan arti harfiyahnya. Contoh:

II. ASPEK NON-BAHASA

Agar hasil terjemahan lebih berbobot, menyentuh dan berkualitas, maka penerjemah perlu mengetahui hal-hal berikut:

  1. Latar belakang topik. Merupakan pengetahuan yang sama atau erat hubungannya dengan masalah topik yang diterjemahkan. Seorang ahli bahasa Inggris lebih menerjemahkan buku bahasa Inggris tentang kedokteran dari pada ahli bahasa Inggris tapi awam terhadap dunia kedokteran.
  2. Konteks, merupakan bagian dari suatu uraian kalimat yang dapat menambah kejelasan makna kata dalam suatu teks. Konteks adalah faktor penting dalam setiap proses penerjemahan, karena konteks mempunyai prioritas yang mengalahkan bahasa teori dan makna utama dari suatu kata.
  3. Konotasi, adalah pertautan pikiran yang menimbulkan nilai rasa pada seseorang ketika berhadapan dengan suatu kata. Ini erat sekali dengan al-zauq al-lughawi (rasa bahasa) masing-masing orang.

Maka terjemah harus memiliki ketiga aspek non bahasa di atas. Di samping itu terjemah harus memiliki faktor-faktor penunjang lainnya, misalnya, ia harus konkret, tegas, jelas dan populer. Sehingga hasil terjemahan tersebut mudah dibaca dan dipahami oleh pembaca pada tingkatannya. Pemenuhan aspek-aspek itu mulai dari kosa kata, bentuk kata, struktur kalimat, jabatan kata maupun ide, gagasan dan pikiran dari penulis naskah sumber.

INSTRUMEN TERJEMAH

Merupakan hal mendasar agar penerjemahan dapat dilakukan dengan cermat dan tepat akurat, maka dibutuhkan penguasaan pengetahuan baik dari aspek bahasa maupun non bahasa, di antaranya:

  1. Menguasai dua bahasa. Diperlukan bagi penerjemah penguasaan bahasa target lebih banyak dari pada penguasaannya terhadap bahasa sumber. Contoh, jika akan menerjemahkan naskah dari bahasa Arab ke Indonesia, maka penguasaan terhadap bahasa Indonesia harus lebih luas dan kaya perspektif dengan memperhatikan keempat unsur pokok terjemah di atas; aspek nahwu, sorof, kamus bahasa dan balaghah.
  2. Menguasai karakteristik dua bahasa (bahasa sumber dan bahasa sasaran).
  3. Pengetahuan yang luas dengan beberapa pendekatan yang lazim digunakan oleh ahli bahasa. Contoh: sekretaris jendral adalah general secretary bukan secretary general.

KUALIFIKASI/SYARAT-SYARAT PENERJEMAH

Mengingat lingkup dan cakupan terjemah yang tidak sederhana, maka diperlukan prasyarat penerjemah agar hasil terjemahannya baik dan  tidak bias, diperlukan beberapa syarat penerjemah, di antaranya:

  1. Terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan dalam melakukan alih bahasa dan tidak melakukan penyimpangan makna.
  2. Menguasai dengan baik bahasa sumber dan bahasa sasaran secara seimbang.
  3. Memahami obyek kajian yang sedang diterjemahkan dengan menguasai istilah-istilah khusus dalam pelbagai obyeknya berikut kosa katanya.
  4. Jika, diperlukan, penerjemah harus mengetahui latar belakang penulis dan spesialisasi bidang yang dikuasainya.
  5. Memahami kultur bahasa sumber.

Bahkan ada mensyaratkan seorang penerjemah harus mempunyai kompetensi dan keistimewaan yang menonjol agar menguasai bidangnya dan trampil mengekspresikan tautan makna yang terkandung dalam bahasa sumbernya.

TEKNIK TERJEMAH

Agar proses penerjemahan lebih baik, terdapat tiga tahapan teknik penerjemahan:

  1. Sebelum memulai menerjemahkan, ia harus membaca teks bahasa sumber secara benar dengan melakukan analisa kata dan kalimat dari berbagai sisi baik sighah, struktur, pola, i’rab maupun ragam makna sesuai dengan konteks kalimatnya.
  2. Menguasai dan memahami alur pikir penulis guna menghasilkan pemahaman yang komprehensif dan mengutuh. Seorang penerjemah harus menghindari penerjemahan secara parsial, sepotong-potong atau bahkan meninggalkan potongan kata yang tidak ia pahami.
  3. Mengalihkan pemikiran penulis ke bahasa target dengan cermat dan tepat, dibarengi dengan ungkapan pemilihan diksi yang benar dan bahasa yang bernas.

Penerjemah mengulang-ulang wacana dan membaginya kepada satuan terjemahan dengan mengklasifikasikannya menurut kandungan struktur kalimat dan keselarasan hubungannya.

Demikianlah, beberapa aspek penting dalam proses penerjemahan. Tanpa penerapan aspek-aspek ini, hasil terjemahan akan kacau, terlalu kental bercorak bahasa sumber, dan tentunya sulit untuk dipahami karena ia mereduksi pemahaman teks asli serta memperkosa bahasa sasaran.

PROBLEM KOSA KATA

  1. Kedudukan kosa kata dalam penerjemahan

Terjemah pada dasarnya adalah pengalihan satuan semantik teks sumber yang dibangun oleh kosa kata. Jadi kosa kata merupakan unsur penting dalam penerjemahan, bahkan teramat penting. Ia menjadi bahan dasar untuk membangun sebuah teks yang utuh sebagai hasil terjemahan. Maka untuk menyelami pesan teks sumber, penerjemah harus menguasai kosa kata secara cermat, tepat dan akurat.

  1. Solusi atas Kosa Kata

Sedikitnya terdapat delapan aspek yang perlu dipersiapkan oleh penerjemah dalam menyelesaikan persoalan kosa kata.

    1. Memanfaatkan kamus – baik berbentuk buku cetakan atau alat elektronik – adalah salah satu cara pemecahan ketika menghadapi persoalan kosa kata. Namun, dalam hal penggunaan kamus, perlu juga bertanya kepada ahli bahasa Arab atau native speaker.
    2. Sebaiknya memilih kamus yang proporsional, serta relevan dengan tingkat kesulitan dan jenis materi teks sumber. Memanfaatkan kamus kecil untuk menerjemahkan teks berbahasa Arab yang sulit dan kompleks, tentu tidak akan memadai. Yang dimaksud ‘kamus yang relevan’ adalah adanya keterkaitan orientasi isi kamus dengan materi atau tema pembahasan teks yang hendak diterjemahkan.
    3. Dalam kamus Arab-Indonesia, kamus Arab-Inggris, atau kamus Inggris –Arab, urutan kosa kata dalam kamus-kamus tersebut secara umum dapat ditelusuri melalui kata pokoknya yaitu fi’il madzi (kata kerja lampau). Seperti kata madzahir (fenomena-fenomena), maka kata tersebut harus dikembalikan ke asal katanya, yakni dzahara, huruf dzat dan bukan dari huruf mim. Maka, ilmu alat semacam ilmu saraf akan sangat membantu menelusuri akar kata masing-masing kosa kata.
    4. Guna menghemat waktu dan agar tidak selalu membuka kamus, penerjemah sebaiknya tidak terlalu tergesa-gesa mencari kata dalam kamus, ketika menemukan kata-kata yang belum diketahui artinya. Bacalah teks berulang-ulang, dan teruskan membaca teks berikutnya. Sebab, penerjemah akan menemukan arti kosa tersebut dalam teks-teks berikutnya. Dalam hal ini, perlu digarisbawahi bahwa konteks kalimat adalah penyangga satuan makna yang sagat membantu untuk mengetahui asti kosa kata yang ada di dalamnya.
    5. Kiat lain, agar tidak terlalu sering membuka kamus adalah menjaga hasalam setiap kosa kata yang pernah dilihat dari kamus. Penerjemah seringkali lupa kembali atas arti kosa kata, padahal kosa kata cenderung dipakai berulang-ulang. Maka, cara efektif untuk mengingatnya adalah menulis kosa kata itu dalam buku tersendiri. Untuk efektifitas ingatan arti kosa kata, maka kosa kata yang ditulis hendaknya dilengkapi dalama bentuk satu kalimat atau satuan makna tertentu, dan bukan hanya satu kata saja, untuk menjaga keutuhan pemahaman.
    6. Di dalam kamus Arab Indonesia atau Arab Inggris sering dijumpai, satu kosa kata Arab memiliki arti yang cukup banyak, malah arti kata satu dengan lainnya terasa sangat berbeda. Penerjemah harus memilih salah satu arti yang dipandang paling tepat dan sesuai dengan konteks kalimat dan arah teks yang diterjemahkan (siyaq al-kalam). Pemilihan jenis kamus, juga memegang peranan penting. Karena tidak semua kamus memuat kosa kata dengan arti yang baku.
    7. Kosa kata yang menjadi konsep sentral perlu memperoleh perhatian khusus, yakni menerjemahkan kata tersebut secermat  dan setepat mungkin. Kesalahan dan inkonsistensi penerjemahan akan mengakibatkan kesalahan yang sangat fatal. Yang dimaksudkan konsep sentral adalah kosa kata yang menjadi ‘penanda’ tema-tema sentral. Kata-kata tersebut umumnya menjadi judul buku, atau judul-judul bab dan sub-bab.
    8. Penerjemah hendaknya mengoptimalkan pemahaman pada sekitar 10-20% pertama dari teks sumber. Misalkan, untuk menerjemahkan teks Arab setebal 200 halaman, maka penerjemah hendaknya memperoleh pemahaman optimal pada 10-20 halaman pertama, termasuk pencarian, pengelolaan dan pemeliharaan kosa kata-kosa kata  sulit. Hal ini didasarkan kenyataan bahwa sehebat dan ‘sekaya’ apapun seorang penulis dalam menggunakan kosa kata, bentuk kalimat dan sebagainya, kreasinya masih tetap terbatas. Penulis itu sangat mungkin akan menggunakan kembali kosa kata dan bentuk kalimat itu pada bagian-bagian teks selanjutnya.
  1. WAWASAN TENTANG KAMUS ARAB

Sebagai tambahan penjelasan, di bawah ini disampaikan wawasan tentang kamus Arab dengan mencermati pendapat Mahmud Fahmi Hijazi. Menurutnya, orientasi khasanah kamus Arab-klasik, secara umum dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok.

    1. Kamus yang mendasarkan entrinya pada materi kebahasaan tertentu, biasanya dengan pemilihan sumber kebahasaan secara selektif, yakni bahasa-bahasa Arab yang dipandang masih murni. Contoh dalam kelompok ini adalah kamus Khalq al-Insan karya Al-Ashmu’i dan Al-Khail karya Abu Ubaidah
    2. Kamus yang mendasarkan urutan entrinya pada tema-tema atau istilah-istilah tertentu, bukan kepada abjad maupun materi kebahasaan, semacam Mu’jam al-Nadawat wa al-Mu’tamarat, Mu’jam al-Musthalahat al-Ilmiyyah wa al-fanniyyah wa al-handasah, karya Ahmad Syafiq Khatib.
    3. Kamus yang mendasarkan urutan entrinya pada urutan abjad tertentu, dan kamus model ini yang paling banyak, di antaranya: Lisan al-Arab, karya Ibn Mandzur, Al-Munjid, karya Louis Ma’luf, Al-Qamus Al-Muhith, karya Al-Fairuz Zabad

 

dikutip dari http://donnjuan.wordpress.com/2010/02/06/panduan-terjemah/#comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s